Geopark Bakal Menjadi Wisata Alam Andalan Indonesia

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Indonesia kembali menggelar seminar nasional di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat,  Rabu 25 Mei 2016. Seminar kali ini bertema “Geopark untuk Pariwisata Nasional” yang dibuka oleh Dadang Rizki Ratman, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, mewakili Menteri Pariwisata yang berhalangan hadir.

geopark wisata alam Indonesia

Seminar Nasional Geopark ini menghadirkan pembicara Ketua Tim Pokja Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, anggota tim Taskforce Revitalisasi Museum Kegeologian & Optimalisasi Pengembangan Geopark, KESDM, Kepala Badan Pengelola Geopark Nasional Kaldera Toba, Kepala Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi UNPAD dan Kepala Badan Pengelola Global Geopark UNESCO Gunung Sewu dan diikuti sekitar 200 peserta yang memiliki beragam latar belakang profesi, mulai dari akademisi, praktisi, hingga pelaku industri pariwisata.

Geological Park atau yang lebih dikenal dengan nama Geopark merupakan taman bumi atau taman geologi di mana masyarakat setempat diajak berperan-serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam pada kawasan tersebut. Kawasan geologi bukan hanya berpotensi untuk meningkatkan daya tarik wisata alam, melainkan juga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah paling cepat daripada sektor-sektor lain dengan menggunakan konsep geopark.

Potensi Geopark Sebagai Wisata Alam Indonesia

 

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Indonesia menjelaskan bahwa geopark memanfaatkan tiga sumber daya, yaitu geodiversity, biodiversity, dan culturaldiversity. Dengan adanya tiga sumber daya tersebut menjadikan geopark tidak hanya bertujuan untuk konservasi saja, namun juga mengandung unsur mendidik dan menyejahterakan.



Sebagai contoh, kawasan geopark di Tiongkok ini mampu menghasilkan 62 persen dari total pendapatan wisata Tiongkok yaitu sekitar Rp 6 miliar dollar AS atau Rp 80 triliun dengan mengelola 33 kawasan geopark dunia yang ada.

Sebelum ditetapkan sebagai Geopark dunia, kawasan Pegunungan Sewu yang berada di daerah Yogyakarta hanya mampu menghasilkan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata sekitar Rp 800 juta pada tahun 2011. Namun sekarang sudah meningkat menjadi Rp 22,5 miliar. Sementar itu, Indonesia hanya memiliki 2 geopark yang diakui dunia (UGG) yaitu Geopark Batur Global dan Geopark Pegunungan Sewu.

Untuk itu, Kemenpar membentuk Tim Pokja Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dalam rangka mempercepat terwujudnya Indonesia menjadi destinasi wisata geopark dunia sebagai bagian dari Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia.

10 kawasan tersebut adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Labuab Bajo, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Wakatobi dan Morotai. Wisatawan mancanegara yang tertarik berkunjung ke Indonesia dikarenakan memiliki potensi alam (nature) dan budaya (culture).

 

Geopark Bakal Menjadi Wisata Indonesia berbasis alam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *