Sejuknya Alam Dalam Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan event tahunan yang diselenggarakan di Dataran Tinggi Dieng, di wilayah Kabupaten Wonosobo (Dieng Wetan) dan Kabupaten Banjarnegara (Dieng Kulon) untuk menjaga kelestarian budaya dan perkembangan pariwisata Dieng.

Dieng Culture Festival

Panorama indah dan hawa sejuk serta cuaca berkabut jadi ciri khas Kawasan Dieng yang merupakan gunung api raksasa yang masih aktif. Dataran Tinggi Dieng, yang mendapat julukan “negeri di atas awan” karena daerah ini berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dan sering diselimuti kabut, sehingga membuat siapa saja yang berada di daerah tersebut seperti sedang berada di khayangan.

Dalam Serat Paramayoga karya Ranggawarsito, Dieng berasal dari bahasa Sanskerta, artinya tempat tinggi atau gunung dan Hyang artinya leluhur atau dewa-dewa. Di negeri para dewa ini akan dijumpai alam yang asri, romantik, dan cocok bagi yang merindukan suasana pegunungan.

Sisa-sisa peninggalan puing sejarah di Dataran Tinggi Dieng pun menarik untuk disimak melalui situs bernama Candi Dieng. Candi-candi yang ada di lokasi ini diberi nama seperti tokoh-tokoh Mahabarata, seperti Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatot Kaca, Candi Srikandi, dan lain sebagainya.

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival pertama kali diselenggarakan tahun 2010. Acara serupa sebelumnya dikenal dengan “Pekan Budaya Dieng”. Baru ketika memasuki tahun ketiga, masyarakat lokal Dieng dan Kelompok Sadar Wisata berinisiatif mengubah namanya menjadi Dieng Culture Festival (DCF).

Sisa peradaban masa lalu di negeri atas awan, dikemas dalam kegiatan apik dalam gelaran Dieng Culture Festival (DCF sebagai pemikat hati para pelancong yang merindukan perpaduan keindahan alam, keunikan budaya, dan keramahtamahan manusianya.

Agenda inti gelaran DCF yang menarik sekaligus unik adalah prosesi ruwatan rambut gimbal. Acara pemotongan rambut, dilakukan di kawasan Candi Arjuna, untuk anak-anak berambut gimbal yang dipercaya sebagai titipan dari Kyai Kolo Dete, salah satu pejabat atau punggawa di masa Mataram Islam (pada masa abad ke empat belas), yang ditugaskan untuk mempersiapkan pemerintahan di wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Sebelumnya, dilakukan acara kirab menuju tempat pencukuran. Selama berkeliling desa, anak-anak rambut gimbal yang berusia antara 40 hari hingga 6 tahun dikawal para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, serta masyarakat.

Selain itu  Dieng Culture Festival (DCF) juga dimeriahkan dengan berbagai pentas seni budaya, wayang kulit, kunjungan ke beberapa lokasi menarik untuk melihat terbitnya matahari (sunrise), serta pesta lampion dan kembang api.

Tidak ketinggalan kuliner khas Dieng  yang khas seperti mie ongklok, olahan buah carica, dan purwaceng (minuman khas masyarakat Dieng) bisa kita cicipi di DCF. Juga melihat produk kreatif dari UMKM di kompleks Dieng Plateau.

Festival kebudayaan yang katanya paling romantis di negeri atas awan ini, selain dimeriahkan dengan berbagai pentas seni budaya juga menampilkan musik jazz. Gelaran musik ini juga dikenal dengan jazz kemul sarung karena digelar di tengah suhu tidak lebih hangat dari empat derajat celcius, penikmatnya pun terpaksa berselimut sarung.

Event seperti ini perlu diselenggarakan setiap tahun untuk menjaga kelestarian budaya dan pastinya agar pariwisata Dieng terus berkembang. Dengan adanya Dieng Culture Festival (DCF), Dieng akan semakin dikenal oleh banyak orang lokal hingga mancanegara, sehingga akan menjadi promosi terbaik, khususnya untuk pariwisata di Dieng.

 

Sejuknya Alam Dalam Dieng Culture Festival

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *