Tidak Perlu Menyelam di Wakatobi

Tidak perlu menyelam untuk melihat eloknya panorama terumbu karang berwarna-warni di kepulauan Wakatobi, singkatan dari Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, di Sulawesi Tenggara ini. Tak perlu tabung oksigen, baju selam, fin atau sepatu katak, hanya bermodal kacamata snorkel (kacamata renang dengan selang menjulur ke atas) sudah bisa menikmati “surga” dasar laut. Snorkeling memang semacam kegiatan wajib bagi yang berkunjung ke kepulauan yang bertetangga dengan Pulau Buton ini.

Meski hanya snorkeling, pemandangan yang bisa dinikmati tak kalah elok dibanding diving hingga ke dasar. Panorama terumbu berwarna-warni yang menggerombol di sana-sini dapat dilihat tanpa harus menyelam dalam. Sementara itu, anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon, yang jadi tempat tinggal mereka. Dan Wakatobi ibarat surga terumbu karang itu. Tak jika begitu banyak jenis ikan hidup di sini.

Pesona Laut Wakatobi

Sejak dulu, Wakatobi, yang sebelumnya dijuluki kepulauan “Tukang Besi”, memang tersohor dengan area terumbu karang dan gugusan pulau karang yang maha luas. Area karang yang ada mencapai 90 ribu hektare, atau sekitar 1,5 kali luas Kota Jakarta. Operation Wallacea bahkan menyebut Wakatobi menyimpan keanekaragaman biota laut terbanyak di dunia.

Lembaga penelitian Inggris ini mencatat 942 spesies ikan, dan 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi hidup di kawasan ini. Bandingkan saja dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah dengan 300 spesies atau Laut Karibia yang cuma 50 spesies. Wakatobi juga berada di kawasan segitiga karang dunia. Karena itulah perairan disini sering dijuluki “pusat” atau “jantung” segitiga karang dunia

Tak cuma itu, Wakatobi juga memiliki Atol Kaledupa sepanjang 48 kilometer. Atol, atau gugusan pulau karang ini terpanjang di dunia. Sejak 1996, pemerintah meresmikan surga para penyelam ini sebagai Taman Nasional Wakatobi. Kepulauan Wakatobi yang berpenduduk sekitar 100 ribu orang ini terdiri atas empat pulau utama. Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Nama Wakatobi diambil dari singkatan keempat pulau itu: Wa-Ka-To-Bi.

Hoga Channel Favorit Penyelam

Hoga Channel merupakan situs penyelaman di antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Meski bukan pulau utama, Hoga adalah favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri yang berkunjung ke tempat ini. Musim menyelam jatuh pada bulan Maret atau musim pendek, dan bulan Juni-Agustus atau disebut musim panjang. Di musim panjang, bisa ratusan tamu datang.

Mereka yang menginap di sini umumnya mahasiswa asal Eropa atau Amerika, yang bisa berminggu-minggu meneliti biota laut Wakatobi. Di pulau yang dipenuhi pepohonan rindang ini terdapat 200 penginapan sederhana dari kayu, dengan sewa tak sampai Rp 100 ribu semalam per orang. Harga yang murah untuk kantong orang asing.



Selain Hoga Channel, ada 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Beberapa di antaranya menjadi tempat favorit di kalangan penyelam. Di dekat Pulau Hoga ada situs “Pinnacle”. Di Kaledupa ada “Karang Kaledupa”, dan di Pulau Tomia ada “Mari Mabuk”. Setiap situs ini punya keunikan. Karang Kaledupa misalnya, menyimpan table coral (karang berbentuk meja) berukuran sebesar 2-3 meter. Ini jarang dijumpai di dive site lain.

Namun soal keindahan struktur karang, “Pinnacle” pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barakuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu tergolong hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barakuda hidup bergerombol. “Hoga Channel” lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil dengan bentuk yang unik

“Di sini terumbu karangnya sangat menawan, dan binatang lautnya cantikcantik,” kata Nadine Chandrawinata, mantan Putri Indonesia yang getol berolahraga menyelam. Keindahan bawah laut seperti di Wakatobi tak pernah ia jumpai di tempat lain. Jangan lupa membawa kamera bawah laut jika snorkeling atau menyelam.

Artikel bahasa Inggris: The Deep Blue Sea Of Wakatobi

Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dipilih untuk mencapai Wakatobi. Selain jalur laut dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, atau Bau-Bau di Pulau Buton, sudah ada penerbangan pesawat umum menuju Wakatobi. Ini karena Bandara Matahora, dengan landasan sepanjang 1.600 meter, sudah rampung dibangun.

 

Menelusuri kedalaman laut Wakatobi – Wisata Bahari

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *