6 Istana Presiden Republik Indonesia

Bangunan atau kompleks Istana Kepresidenan, bukan hanya bangunan biasa yang berfungsi sebagai kediaman dan tempat kerja Presiden/Kepala Negara. Tapi lebih dari itu, istana merupakan salah satu simbol kenegaraan, untuk menunjukan kedaulatan suatu bangsa. Karena itu, istana selalu diperlakukan istimewa.

Indonesia memiliki enam istana. Lima istana merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda, sedangkan 1 istana yakni Istana Kepresidenan di Tampak Siring Bali yang dibangun semasa Pemerintah RI. Sebagai ibukota negara, ada dua bangunan istana berlokasi di Jakarta. Selebihnya berada di luar Jakarta, yakni di Bogor, Cipanas, Yogyakarta dan Bali.

Istana Kepresidenan Indonesia

 

1. Istana Negara

Istana Negara berada di dalam kompleks Istana Kepresidenan, letaknya menghadap Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Istana Negara saat ini difungsikan sebagai tempat kediaman Presiden RI serta untuk upacara-upacara kenegaraan.

Istana Negara Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Awalnya, istana negara ini adalah kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena itu, istana ini banyak menyimpan kisah sejarah masa lampau yang berhubungan dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Misalnya, di istana inilah Jenderal De Kock memaparkan strategi perangnya untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol kepada Gubernur Jenderal Baron van der Capellen.

Dari istana ini pula GubernurJenderal Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia dilakukan di istana ini. Dalam upacara tersebut Wakil Tinggi Mahkota Dr. Lovink mewakili Ratu Belanda dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX mewakili Pemerintah Indonesia.

Setelah penandatanganan naskah serah terima, bendera Kerajaan Belanda di atas istana diturunkan, dan kemudian diganti dengan bendera Indonesia Sang Merah Putih. Pada hari itu juga, Wakil Tinggi Mahkota, Dr Lovink meninggalkan istana menuju lapangan terbang Kemayoran dan bertolak ke negeri Belanda.

2. Istana Merdeka

Istana Merdeka, juga berada di dalam kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta. Letaknya menghadap Jalan Medan Merdeka Utara dan Taman Monas. Dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1879.

Istana Merdeka Jalan Medan Merdeka Utara Jakarta

Sebagai kantor presiden/kepala negara, istana ini memiliki peran penting bagi kehidupan pemerintahan Indonesia. Bahkan, Istana Merdeka bisa dianggap paling istimewa diantara semua istana kepresidenan.

Selain ditandai dengan pemberian nama yang khas bernuansa patriotisme, juga jadi tempat Presiden menerima para tamu negara. Di halaman Istana Merdeka terdapat tiang bendera setinggi 17 meter, untuk pengibaran bendera pusaka, pada upacara kenegaraan peringatan Detik Detik Proklamasi Kemerdekaan.

3. Istana Bogor

Istana Kepresidenan di kota Bogor terletak di Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Istana ini berada di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28,86 hektar.

Istana Bogor, Kotamadya Bogor, Jawa Barat

Riwayat Istana Kepresidenan Bogor bermula dari Gubernur Jenderal Belanda W.W. Baron van Imhoff, yang mencari tempat untuk peristirahatan. Ia menemukan sebuah pesanggrahan (10 Agustus 1744) yang diberi nama Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Dia sendiri membuat sketsa dan membangunnya (1745-1750) mencontoh
arsitektur Blehheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.

Namun, pada 10 Oktober 1834 gempa bumi berat mengguncang sehingga istana tersebut rusak berat. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan, dan didirikan bangunan baru dengan mengikuti arsitektur Eropa abad IX.

Pada 1870, istana ini ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir istana itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, kepala pemerintahan pendudukan Jepang. Sebanyak 44 gubernur jenderal Belanda menjadi penghuni istana ini.

Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor (1950) mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia. Di Istana  Bogor, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang kemudian dijadikan dasar hukum oleh Jenderal  Soeharto membangun rezim Orde Baru.

4. Istana Cipanas



Istana Kepresidenan Cipanas terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, di kaki Gunung Gede, Jawa Barat.

Istana Cipanas Pacet,  Cianjur, Jawa Barat

Bangunan ini didirikan pada 1740 oleh seorang tuan tanah asal Belanda bernama Van Heots, di atas tanah pada ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut, pada areal seluas sekitar 26 hektar. Luas bangunannya sekitar 7.760 meter persegi.

Pada tahun 1916, di masa pemerintahan Hindia Belanda, dibangun tiga bangunan dengan nama Paviliun Yudistira,  Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna. Pada tahun 1954, di masa Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, didirikan sebuah gedung berhiasan batu berbentuk bentol.

Istana ini dibangun dengan keadaan panorama alam yang asri, udaranya bersih, sejuk dengan berlatar belakang Gunung Gede. Menurut Katalog yang disusun secara alfabetis terbitan Istana Kepresidenan bekerja sama dengan LIPI, hingga tahun 2001, dalam areal hutan istana, tercatat flora dan fauna sebanyak 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga, serta 61 suku.

Selain dengan lingkungan yang asri, istana ini juga dialiri air panas. Istana ini dijadikan tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, dan persinggahan para kepala negara tetangga yang berkunjung ke   Indonesia. Pada 1971, Ratu Yuliana meluangkan waktunya untuk singgah.

5. Istana Yogyakarta

Istana Kepresidenan di kota Yogyakarta, atau lebih dikenal dengan sebutan Gedung Agung atau Gedung Negara terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani (yang dahulu Jalan Malioboro), Kotamadya Yogyakarta. Kompleks ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 meter persegi.

Istana Yogyakarta, atau  Gedung Agung Yogyakarta

Sejak didirikannya Istana Yogyakarta tidak banyak berubah. Di halaman serambi depan tampak sebuah patung raksasa penjaga pintu (dwarapala) yang terbuat dari batu andesit setinggi dua meter. Selain itu, terdapat sebuah tugu Dagoba (yang oleh orang Yogyakarta disebut Tugu Lilin) setinggi tiga setengah meter, yang senantiasa menyalakan api semu di puncaknya.

Halaman belakang istana ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tinggi yang dedaunannya amat lebat dan rindang sehingga tampak seakan merindangi bangunan istana. Salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.

Riwayat Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari rumah kediaman resmi Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823 – 1825), Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada Mei 1824 oleh A. Payen, seorang arsitek yang ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai (1832). Beberapa gubernur Belanda pernah mendiami gedung tersebut. Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.

6. Istana Tampaksiring

Istana Kepresidenan Tampaksiring berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut. Berlokasi di atas perbuktian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Pulau Bali.

Istana Tampaksiring, Gianyar, Bali

Istana ini yang satu-satunya dibangun dimasa pemerintahan Indonesia. Dibangun pada tahun 1957 – 1960, sepenuhnya ditangani oleh putra-putra Indonesia, atas prakarsa Presiden I Republik Indonesia, Ir Soekarno.

Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, tampak (bermakna telapak) dan siring (bermakna miring). Menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.

 

Istana Kepresidenan RI – Kanal wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *