Keunikan Wisata di Tana Toraja

Tana Toraja masuk daftar warisan budaya dunia (Inscription World Heritage List) C1038 UNESCO karena mempunyai sebuah kebudayaan yang unik. Dengan julukan Land of the Heavenly Kings, kebudayaan yang ada di Tana Toraja mungkin tidak akan ditemukan di tempat lain di dunia dan budaya tersebut masih hidup hingga sekarang.

Wisata di Tana Toraja memiliki ciri khas yaitu rumah adat masyarakat unik yang disebut dengan tongkonan yaitu sebuah rumah besar dengan atapnya melengkung menyerupai perahu, yang dahulu terdiri atas susunan bambu. Selain rumah adat, Tana Toraja yang dapat diartikan “Daratan Orang yang Terhormat” telah dikenal sejak dulu akan tradisi budaya yang masih orisinil, unik dan menarik, terutama upacara adat Rambu Solo’.

tongkonan-rumah-adat-tana-toraja

Rumah Adat Masyarakat Toraja Tongkonan

 

Salah satu tempat wisata di Tana Toraja adalah perkampungan Kete Kesu (Ke’te Kesu) yang sangat populer di kalangan turis karena di sana ada tongkonan (rumah adat masyarakat Toraja), rante (tempat upacara), lumbung padi dan megalit di antara persawahan, serta makam aristokrat. Memasuki Kete Kesu, pengunjung harus membayar biaya masuk. Begitu memasuki daerah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini kita akan langsung menjumpai jejeran tongkonan lengkap dengan alang sura (lumbung padi ).

Tongkonan ini berusia ratusan tahun. Bahkan ada yang berusia sekitar 900 tahun ! “Setiap tongkonan disini memiliki fungsi tersendiri. Seperti negara, disini ada pemerintahannya juga. Ada pemangku adat, Papaelan (DPA), Pabalian (KUA) dan ’menteri keuangannya’ juga.

Ini bisa dilihat dari bentuk tongkonan. Kalau ada kepala kerbaunya berarti tongkonan untuk pemerintahan. Rumah tongkonan sendiri harus selalu ada lumbung padinya. Menurut filosofi orang Toraja, tongkonan merupakan ’istri’ sedang lumbung padi ibarat ’suami’. Tongkonan harus menghadap utara dan lumbung padi sebaliknya ke selatan. Rumah tongkonan dan lumbung padi ini, menurut terbuat dari 3 jenis kayu, kayu nangka sebagai tiang, kayu uru dan kayu cendana. “Dengan kayu nangka ini sebagai tiang, tikus tidak bisa naik masuk ke lumbung padi,” katanya lagi.

Diantara deretan tongkonan, terdapat sebuah tongkonan yang dijadikan sebuah museum. Museum Indo’ Ta’dung, namanya. Diresmikan pada tanggal 11 Juli 2000, didalamnya ada beberapa pusaka toraja, pakaian perang, patung-patung, bendera merah putih pertama di Toraja. Selain itu ada benda aneh, bentuknya seperti batu lonjong sebesar galon air mineral konon katanya ini ari-ari manusia (toraja) jaman dulu yang sudah menjadi batu.

Makam Masyarakat Tana Toraja

 



Menyusuri beberapa anak tangga, kita akan menjumpai 3 buah Patane (kuburan yang berbentuk rumah). Kuburan ini sangat besar. Didalamnya selain jenazah, disimpan juga benda-benda kesayangan si mayat. Satu patane biasanya diisi beberapa orang anggota keluarga. Di atas patane diletakkan patung atau foto mayat yang disimpan. Hal ini menandakan status sosial orang tersebut bukan sembarang orang.

Agak berjalan ke atas, banyak sekali tulang-tulang kerangka dan tengkorak tergeletak begitu saja di atas erong (peti mati kayu berbentuk binatang) yang sudah terbuka. Tulang-tulang ini usianya sudah ratusan tahun. Tempat dimana erong ini diletakkan juga menandakan status sosial orang tersebut. Makin tinggi tempat erong tersebut, makin tinggi pula status sosialnya. Erong ada yang berbentuk kepala babi atau kerbau. Kepala babi berarti mayat yang disimpan adalah perempuan, sedang kepala kerbau untuk laki-laki.

patane-toraja

Dalam gua kecil yang ada di Kete Kesu, di mulut gua, selain tulang belulang dan tengkorak, anehnya, ada bermacam-macam barang. Puluhan batang rokok, tas sekolah, botol-botol minuman, kursi plastik dan bahkan kipas angin!  Ini barang-barang kesayangannya (si mayat). Jadi kalau keluarganya ada yang mimpi didatangi si mayat yang kehausan, keluarganya bawa minuman ini.

Untuk masuk ke gua lebih dalam harus menggunakan obor. Di dalamnya, justru lebih banyak tersimpan mayat di dalam peti. Penyusunan petinya lebih rapi. Yang dikubur di gua ini semuanya satu keluarga dan kalau yang dikubur di gua berarti rakyat biasa.

Berwisata Ke Tana Toraja

 

Jika berwisata ke Tana Toraja lebih baik menginap di Rantepao dibanding Makale (ibukota Toraja). Obyek wisata lebih banyak dekat lokasinya di Rantepao. Penginapan pun banyak disini. Tarif hotel di Rantepao relatif murah. Bahkan kalau lagi low season, tarifnya bisa ditawar. Padahal hotel dengan model tongkonan ini cukup bagus dan ruang kamar yang sangat luas.

Banyak sekali obyek wisata yang berada di sekitar Rantepao. Diantaranya, Lemo (11 km dari Rantepao), Pallawa (12 km), Londa (5 km), Kete Kesu (4 km), Batutumonga (24 km) dan Sangalla (19 km). Rata-rata obyek wisata tersebut hampir sama, tempat makam khas Toraja.

Namun menurut salah seorang penduduk setempat, kalau sudah mengunjungi Kete Kesu dan Londa, sudah cukup (mewakili) semua. Kete Kesu berada dalam wilayah Lingkungan Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi. Dari pusat kota wisata Rantepao, jaraknya sekitar 4 kilometer. Untuk mencapai daerah itu sangat mudah. Dari jalan poros antara Makale (ibukota Tana Toraja) dan Rantepao, pengunjung berbelok ke jalan kecil sejauh 3 kilometer yang bisa dilewati dua kendaraan. Hanya di beberapa ruas jalan selain menyempit, terlihat aspal jalan mengelupas dan berlubang-lubang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *