Rambu Solo’ Upacara Pemakaman Adat Toraja

Rambu Solo’ merupakan upacara adat pemakaman di Tana Toraja yang memiliki keunikan yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain di dunia dan masih hidup hingga sekarang. Terlepas dari segala kontroversi tentang biaya yang dikeluarkan begitu banyak untuk pelaksanaan upacara adat Toraja ini, namun kepercayaan Aluk Todolo yang mendasari sendi-sendi kehidupan masyarakat Toraja menyimpan sisi menarik lainnya terutama dari sisi pariwisata.

Upacara Adat Pemakaman Rambu Solo' Toraja

Seperti halnya upacara Ngaben di Bali, upacara pemakaman Rambu Solo’ ini paling diminati oleh para wisatawan dalam dan luar negeri. Menurut survei Dinas Pariwisata Kantor Wilayah Daerah Tana Toraja, Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita), dan Persatuan Hotel dan Restoran (PHRI) Sulawesi Selatan, pada tahun 1979-1997 Toraja merupakan tujuan wisata paling populer di Indonesia setelah Bali.

Biasanya pelaksanaan Rambu Solo’ paling banyak diadakan pada bulan liburan sekolah yaitu antara Juni – Agustus yang umumnya berlangsung selama 7 hari dan yang paling meriah pada hari terakhir. Meskipun ada yang dilakukan diluar bulan tersebut, namun jarang terjadi. Untuk mendapatkan informasi kapan dan dimana Rambu Solo’ ini diadakan, lebih baik mencari informasi di Tourism Information Centre yang banyak tersebar di Rantepao ibukota Kabupaten Toraja Utara.

Adat Pemakaman Rambu Solo’ Toraja

 

Upacara Pemakaman Rambu Solo’ pada dasarnya adalah ritual yang digelar keluarga untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal. Dalam adat istiadat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal mangkat wajib membuat sebuah pesta sebagai tanda hormat terakhir kepada yang telah meninggal. Ritual ini digelar semewah mungkin agar arwah leluhur dapat diterima di puya (surga).

Untuk itu banyak kerbau dan babi dikorbankan agar perjalanan sang arwah ke surga tidak terhambat. Orang Toraja mempercayai bahwa jiwa yang mati mengendarai jiwa kerbau dan babi yang dikorbankan. Makanya hewan yang terbaik sebagai kendaraan menuju Puyo adalah Tedong Bonga, kerbau bule khas Toraja, sebab kerbau ini dianggap kuat untuk melintasi gunung dan lembah menuju surga.

Bila tidak di-rambu solo’, maka arwahnya belum diterima di puya. Jadi, sebelum di-rambu solo’, mayatnya disimpan di kamar bagian selatan dan menghadap barat atau utara. Barat atau utara melambangkan kematian. Mayat, dianggap masih sakit dan diberi makan sesuai kesukaannya sewaktu hidup setiap harinya.

Upacara Rambu Solo’ Tana Toraja

 



Keluarga yang mengadakan Rambu Solo’ akan menyiapkan Rante yaitu areal tempat upacara pemakaman yang dilengkapi dengan bangunan-bangunan non permanen dari bambu yang dibangun khusus untuk upacara ini.

Ada 4 bangunan dalam areal tersebut. Lakkian sebagai tempat peti jenazah diletakkan atau tempat peristirahatan sementara. Di depannya ada Lanta Karampoan yaitu bangunan bambu ukuran kurang lebih 5x10m sebagai tempat penerimaan tamu. Di samping kiri-kanan Lanta Karampoan tempat para tamu undangan yang hadir. Sedangkan undangan VIP dan keluarga ditempatkan dibawah alang sura (lumbung padi).

Ditengah-tengah rante, dipasang pohon aren dengan jumlah tertentu untuk menandakan pemilik hajat dari kalangan tertentu. Jika pohon aren berjumlah 4 maka kalangan bangsawan (ningrat).

Di lakkian atau tempat peti jenazah diletakkan peti mati lengkap dengan fotonya. Bentuk peti pun masing-masing punya arti tersendiri. Peti kayu berarti untuk orang muda atau rakyat biasa, orang kaya menggunakan peti dengan diselubungi kain yang diukir. Sedang perempuan, di atas peti diberi manik-manik perhiasan dan payung.

Sesepuh keluarga duduk melingkar di sisi lapangan. Ditengah mereka ditaruh 5 piring berisi sesajian dan rokok. Lalu mereka mulai melakukan Tonnoru’, yaitu menangis sedih tapi nadanya dilagukan. Ditengah-tengah tonnoru’ mereka, orang-orang menaruh uang di dalam piring tadi. Uang itu sekedar ungkapan simpati untuk sekedar meringankan beban biaya upacara ini. Sesekali suara pekik khas Toraja (meoli) terdengar.

Selesai tonnoru’, dengan diiringi bunyi-bunyian gong dan membawa tombak yang ujungnya diberi kain dan sepotong bambu berisi tuak (air pohon aren), mereka berkeliling lapangan menghampiri penyumbang kerbau. Mereka menyerahkan bambu kepada penyumbang kerbau untuk disiramkan tuak ke kerbaunya. Setelah itu ada satu orang dengan menggunakan kekuatan magic hanya sekali tebas menyembelih kerbau.

Setelah pemotongan, daging-daging kerbau tadi dibagi-bagikan dan sebagian dimasak untuk disajikan ke para pengunjung. Sedang tanduk kerbau dipasang di depan Tongkonan. Hal ini menandakan status sosial ekonomi keluarga tersebut. Makin banyak tanduk kerbau yang terpasang berarti makin banyak keluarga tersebut mengadakan pesta.

 

Rambu Solo’ Upacara Pemakaman Adat Toraja – Kanal Wisata Indonesia

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *