Siapa Bilang Danau Toba Itu Jelek

Siapa Bilang Danau Toba Itu Jelek? Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

tomok danau toba

Perjalanan beberapa orang yang suntuk setelah berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, keluarlah ide luar biasa, yaitu melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan namun akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu. Berikut kisahnya yang dibagi menjadi 3 bagian.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Selanjutnya: di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus

One comment

  1. Danau Toba dari jauh terlihat indah banget. Setiap kali ke Medan kami lewat pinggirannya tapi kagak pernah benar-benar singgah ke pusatnya….
    Terimakasih infonya bang. Lain kali kalau lewat ke sana lagi akan saya lihat lebih dekat.
    🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *